Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dengan menembus level US$5.100 per troy ounce, sebelum bergerak stabil di kisaran US$5.050 per troy ounce pada perdagangan terbaru. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketegangan geopolitik dan perdagangan global.
Penguatan emas terjadi seiring meningkatnya sentimen kehati-hatian (risk-off) di pasar keuangan internasional. Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi global, tekanan politik, serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset yang dinilai lebih aman.
Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada rapat Federal Reserve (The Fed) AS pada 27–28 Januari. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun demikian, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell akan menjadi sorotan utama, terutama terkait sinyal kebijakan moneter ke depan dan independensi bank sentral di tengah meningkatnya tekanan politik.
Dari sisi fundamental, harga emas mendapat dukungan dari melemahnya imbal hasil riil obligasi pemerintah AS. Ketika imbal hasil nominal bergerak terbatas dan ekspektasi inflasi bertahan, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi relatif lebih menarik bagi investor.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah mencatatkan kenaikan sekitar 17–18%, melanjutkan reli signifikan pada tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 64% sepanjang 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, peningkatan aliran dana ke exchange traded fund (ETF) emas, serta permintaan ritel yang tetap kuat.
Sejumlah pelaku pasar dan analis memperkirakan tren kenaikan harga emas masih berpeluang berlanjut. Dalam beberapa skenario, target harga jangka menengah bahkan diproyeksikan dapat melampaui US$6.000 per troy ounce, meskipun disertai potensi volatilitas yang lebih tinggi.
Risiko volatilitas pasar juga meningkat seiring kekhawatiran terhadap potensi penutupan sebagian pemerintah AS (government shutdown). Pasar prediksi menunjukkan peluang terjadinya shutdown hingga 31 Januari mencapai sekitar 81%. Jika terealisasi, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar, menekan aset berisiko seperti saham dan kripto, serta memperkuat arus dana ke aset lindung nilai, termasuk emas.
Di pasar global, kenaikan harga emas terjadi bersamaan dengan pergerakan pasar saham yang bervariasi dan harga minyak yang tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Sementara itu, di dalam negeri, nilai tukar rupiah diperdagangkan relatif stabil di kisaran Rp16.700–Rp16.900 per dolar AS, didukung oleh penerimaan komoditas, aliran portofolio domestik, serta kecukupan cadangan devisa dan langkah stabilisasi Bank Indonesia.
Ke depan, pergerakan emas diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter global, perkembangan geopolitik, dan perubahan sentimen risiko investor. Pelaku pasar diimbau mencermati faktor-faktor tersebut secara disiplin dalam pengambilan keputusan.
Transaksi emas melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses melalui aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold di dalam aplikasi Pospay.
Disclaimer:
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





