Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas global terkoreksi pada Kamis (waktu AS) seiring aksi ambil untung investor setelah logam mulia itu mencetak rekor tertinggi. Meski mengalami tekanan, emas masih berada di jalur mencatatkan kinerja bulanan terbaik sejak awal 1980-an, ditopang ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus meningkat.
Harga emas spot turun 1,3% menjadi US$5.330,20 per ons pada pukul 13.30 ET (18.30 GMT). Sepanjang sesi, harga sempat berbalik tajam, anjlok lebih dari 5% hingga ke level terendah US$5.109,62, setelah sebelumnya menyentuh rekor US$5.594,82. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,3% ke US$5.318,40. “Kami melihat penjualan besar-besaran setelah logam mulia mencapai rekor tertinggi baru,” kata David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures dikutip dari Reuters.com.
Dampak koreksi harga emas global tersebut juga menjalar ke dalam negeri, termasuk pada Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X. Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), harga emas pada platform tersebut melemah lebih dari 6%, atau turun sekitar Rp180.000 per gram. Koreksi ini membawa harga di Bursa Emas Fisik JFXGOLD X ke posisi US$5.197,2 per troy ounce, setara dengan Rp2.850.188 per gram.
Head of Research, Analysis, and Market Development Metalbank Global Monetary – Robby Leonardo, menilai koreksi yang terjadi bersifat teknis dan tidak mengubah tren utama. “Emas (XAU) berada di sekitar US$5.200 per troy ounce, terkoreksi dari puncak intraday akibat aksi ambil untung jangka pendek. Namun, tren bullish tetap terjaga, ditopang permintaan safe haven yang kuat serta arus masuk ETF, pembelian bank sentral, dan emas fisik,” tutur Robby kepada tim MetalNews Digital. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik, inflasi yang masih berada di atas target The Fed, serta kenaikan proyeksi harga emas oleh UBS dan sejumlah lembaga keuangan lain terus menopang sentimen, dengan permintaan struktural jangka panjang dinilai tetap solid.
Secara kinerja, emas spot masih naik sekitar 24% sepanjang Januari dan menguat sekitar 7% dalam sepekan. Reli kuat ini mendorong UBS menaikkan proyeksi harga emas menjadi US$6.200 per ons untuk kuartal Maret, Juni, dan September 2026, meski bank tersebut memperkirakan harga akan melemah ke sekitar US$5.900 pada akhir 2026.
Melansir dari Reuters.com, Permintaan terhadap emas dinilai semakin meluas, mulai dari investor ritel hingga institusi besar dan bank sentral. “Logam mulia berada di sorotan dan investor selalu mencari tempat dengan imbal hasil tinggi,” ujar Brian Lan, Direktur Pelaksana GoldSilver Central. Pada Rabu, CEO Tether menyatakan rencana mengalokasikan 10%–15% portofolio investasinya ke emas fisik, sementara SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, mencatat kepemilikan tertinggi dalam hampir empat tahun. Dari sisi perdagangan fisik, ekspor emas Swiss melonjak 27% secara bulanan pada Desember, didorong pengiriman ke Inggris yang mencapai level tertinggi sejak Agustus 2019.
Dari sisi makroekonomi, penguatan tipis dolar AS turut memberi tekanan jangka pendek pada harga emas. Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pasar menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump terkait pengganti Ketua The Fed Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei. Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya pada Juni, meskipun inflasi AS pada Desember dinilai masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Ketidakpastian geopolitik juga tetap menjadi faktor penopang emas. Trump mendesak Iran untuk kembali bernegosiasi terkait kesepakatan nuklir, sementara Teheran mengancam akan membalas serangan terhadap AS, Israel, dan sekutunya. Sejumlah sumber menyebut Washington tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, meski pejabat Israel dan Arab menilai langkah militer saja tidak akan cukup menggoyang pemerintahan di negara tersebut.
Sementara itu, logam mulia lain turut terkoreksi. Harga perak spot turun 2,1% ke US$114,141 per troy ounce setelah sempat menyentuh rekor US$121,64, meskipun masih melonjak lebih dari 60% sepanjang bulan ini dan menuju kinerja bulanan terbaik sepanjang sejarah. Platinum turun 3,2% ke US$2.602,85 per troy ounce setelah mencetak rekor awal pekan ini, sementara palladium melemah 3,7% ke US$1.996,65.
Transaksi emas melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses melalui aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.
Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





