Emas Fisik di Platform JFXGOLD X Terkoreksi Hampir 2%, Harganya Kembali ke Rp. 2,7 juta/gram!

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Senin (17/3/2026) setelah sempat memangkas penurunan hampir 1% pada awal sesi. Pelemahan dolar AS membantu menahan tekanan harga logam mulia tersebut di tengah memudarnya harapan pemotongan suku bunga Amerika Serikat dalam waktu dekat akibat tingginya harga energi.

Harga emas spot tercatat naik tipis 0,1% menjadi US$5.020,79 per troy ounce pada pukul 04.27 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April turun 0,7% menjadi US$5.024,90 per troy ounce.

Pada perdagangan hari ini, harga emas fisik di platform bursa emas fisik JFXGOLD X alami koreksi hampir 2%. Koreksi ini membuat harga berada di level US$5.027,99 per troy ounce atau sekitar Rp2.789.372 per gram.

Pelemahan dolar AS membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, termasuk emas batangan, menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun juga melemah sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Dilansir dari Reuters, analis OCBC Christopher Wong mengatakan harga energi yang tinggi berpotensi mendorong inflasi meningkat. Jika kondisi tersebut membuat Federal Reserve tetap berhati-hati dalam memangkas suku bunga, imbal hasil riil dapat bertahan tinggi dan menjadi hambatan bagi kenaikan harga emas.

Tekanan inflasi juga dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel. Kondisi ini terjadi seiring perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga. Konflik tersebut membahayakan infrastruktur minyak dan membuat Selat Hormuz tetap tertutup sehingga menciptakan gangguan pasokan energi global yang besar.

Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan biaya transportasi dan produksi yang pada akhirnya memicu inflasi. Emas selama ini dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga tinggi, aset yang memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik sehingga dapat mengurangi daya tarik emas.

Menurut Wong, dalam jangka pendek pergerakan harga emas berpotensi tetap bergejolak karena pelaku pasar kembali menilai arah kebijakan Federal Reserve serta tren imbal hasil riil.

Head of Research Analyst and Market Development, MetalBank Global Monetary – Robby Leonardo dalam analisanya hari ini mengatakan, pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kedua berturut-turut yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengatakan pemerintahannya tengah berdiskusi dengan tujuh negara untuk mengamankan Selat Hormuz. Ia juga mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg serta menegaskan belum siap mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Trump juga menyatakan negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari kawasan Teluk memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.

Di pasar logam lainnya, harga perak spot naik tipis 0,1% menjadi US$80,62 per troy ounce. Harga platinum naik 1,8% menjadi US$2.060,32 per troy ounce, sedangkan paladium menguat 1,6% menjadi US$1.576,41 per troy ounce.

Di tengah perkembangan tersebut, pasar juga menilai guncangan fisik di Selat Hormuz menjadi pendorong utama volatilitas pasar komoditas, bukan semata faktor geopolitik. Harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel menciptakan kondisi pasar yang marjinal dengan struktur backwardation berkepanjangan yang menopang strategi lindung nilai komoditas.

“Dalam konteks ini, emas dipandang bukan sebagai aset yang akan naik tanpa batas, melainkan sebagai instrumen asuransi terhadap risiko. Pergerakannya tetap dibatasi oleh dinamika indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, kecuali jika aliran dana ke aset safe haven meningkat secara signifikan.” Robby Leonardo – Head of Research Analyst and Market Development, MetalBank Global Monetary.

Data arus dana menunjukkan pembelian emas masih bersifat taktis. Harga emas di sekitar US$5.020 per troy ounce naik tipis dibandingkan sesi sebelumnya, dengan peningkatan moderat pada volume dan open interest ETF maupun kontrak berjangka. Spekulan dan investor institusional mulai menambah posisi beli secara bertahap, meskipun belum terlihat lonjakan pembelian ritel yang dipicu fenomena fear of missing out (FOMO).

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp16.960 hingga Rp16.980, mendekati referensi tengah JISDOR di level Rp16.900 untuk seri terbaru. Volume perdagangan valuta asing juga meningkat pada periode risk-off.

Secara fundamental, selisih suku bunga antara Bank Indonesia dan Federal Reserve masih menjadi bantalan bagi rupiah. Namun, kenaikan impor minyak dan potensi arus keluar modal asing menjadi tekanan jangka pendek. Jika harga minyak Brent tetap bertahan di atas US$100 per barel, tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlanjut melalui jalur neraca berjalan dan inflasi.

Sentimen pasar juga menunjukkan adanya arus keluar modal asing. Sementara itu, investor ritel domestik cenderung aktif membeli saat harga turun, meskipun daya belinya relatif terbatas dibandingkan aliran modal global.

Transaksi emas fisik melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses pada aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.

Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

  • Related Posts

    Emas Menguat Tipis di Tengah Meredanya Kekhawatiran Inflasi, Pasar Pantau Data Ekonomi AS

    Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas naik tipis pada perdagangan Rabu di tengah meredanya kekhawatiran inflasi global, sementara pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk…

    Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz

    Jakarta, MetalNews Digital – Ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi kembali menjadi penggerak utama pasar global. Konflik di Timur Tengah yang terus berkembang mendorong investor meningkatkan eksposur pada aset lindung…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You Missed

    Emas Fisik di Platform JFXGOLD X Terkoreksi Hampir 2%, Harganya Kembali ke Rp. 2,7 juta/gram!

    Emas Fisik di Platform JFXGOLD X Terkoreksi Hampir 2%, Harganya Kembali ke Rp. 2,7 juta/gram!

    Emas Menguat Tipis di Tengah Meredanya Kekhawatiran Inflasi, Pasar Pantau Data Ekonomi AS

    Emas Menguat Tipis di Tengah Meredanya Kekhawatiran Inflasi, Pasar Pantau Data Ekonomi AS

    Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz

    Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz

    Harga Emas Melonjak 1,37%, Pasar Global Masuk Mode “Risk-Off” Pasca Serangan AS–Israel ke Iran

    Harga Emas Melonjak 1,37%, Pasar Global Masuk Mode “Risk-Off” Pasca Serangan AS–Israel ke Iran

    Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Tarif AS, JFXGOLD X Melesat Hampir 4% Tembus US$ 5.165 per troy ounce

    Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Tarif AS, JFXGOLD X Melesat Hampir 4% Tembus US$ 5.165 per troy ounce

    Emas Global Bertahan di Atas US$5.000 per Troy Ounce, Pasar Oportunis Namun Tetap Rapuh Jelang Data AS

    Emas Global Bertahan di Atas US$5.000 per Troy Ounce, Pasar Oportunis Namun Tetap Rapuh Jelang Data AS