Harga Emas Melonjak 1,37%, Pasar Global Masuk Mode “Risk-Off” Pasca Serangan AS–Israel ke Iran

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia melonjak pada perdagangan Senin (waktu setempat) setelah serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gelombang pelarian aset berisiko (risk-off) di pasar global. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan meningkatkan probabilitas eskalasi konflik terbuka di kawasan Timur Tengah — wilayah kunci jalur energi dunia.

Pada pukul 04.39 GMT, harga emas spot menguat 1,37 persen menjadi US$5.349,44 per troy ounce, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat pekan. Kontrak berjangka emas AS bahkan melonjak 2,21 persen ke US$5.362,60 per troy ounce. Dalam sesi intraday, emas sempat melesat hingga 2 persen, mencerminkan lonjakan permintaan lindung nilai secara agresif.

Gelombang serangan lanjutan di Teheran serta balasan rudal Iran mempertegas bahwa konflik belum mereda. Bagi pasar, ini bukan sekadar episode geopolitik biasa, melainkan potensi gangguan pasokan energi global yang dapat mendorong tekanan inflasi kembali naik.

Dilansir dari Reuters.com Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menyebut dinamika konflik kali ini berbeda karena kedua pihak memiliki insentif kuat untuk terus meningkatkan tensi. Situasi tersebut menciptakan ketidakpastian yang dalam dan menopang harga emas sebagai aset perlindungan.

Head of Research, Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary, Robby Leonardo, menilai reli emas saat ini lebih mencerminkan pembelian asuransi risiko ketimbang pergeseran fundamental ekonomi.

“Serangan AS dan Israel terhadap Iran ini bukan cerita permintaan global yang menguat, melainkan risk event berbasis pasokan dan geopolitik. Pasar saat ini tidak membeli pertumbuhan, pasar membeli perlindungan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun reli signifikan, indikator kunci seperti imbal hasil riil belum menunjukkan penurunan drastis.

“Kenaikan emas memang signifikan, namun imbal hasil riil belum turun tajam. Artinya, reli lebih didorong oleh aliran dana safe haven dan asuransi geopolitik, bukan perubahan rezim makro besar. Jika tekanan geopolitik mereda tanpa penurunan imbal hasil riil, ruang kenaikan bisa lebih terbatas,” tambahnya kepada tim MetalNews Digital.

Penguatan emas terjadi di tengah kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,27 persen, yang biasanya menekan harga logam mulia. Fakta bahwa emas tetap menguat menunjukkan kuatnya arus lindung nilai di tengah ketidakpastian ekstrem.

Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak sekitar 64 persen dan berulang kali mencetak rekor tertinggi baru. Reli ini didorong oleh kombinasi pembelian besar bank sentral, arus masuk dana yang solid ke ETF, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.

Namun risiko baru kini muncul dari sisi energi. Jika konflik meluas dan mengganggu distribusi minyak, inflasi global berpotensi kembali meningkat — skenario yang dapat mempersulit langkah bank sentral, termasuk The Fed, dalam melonggarkan kebijakan.

Pasar kini menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat pekan ini, termasuk laporan ADP dan nonfarm payrolls, yang dapat memberi sinyal tambahan arah kebijakan moneter di tengah bayang-bayang krisis geopolitik.

Dengan eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda, emas kembali menegaskan posisinya sebagai barometer utama ketidakpastian global — dan pasar tampaknya bersiap menghadapi volatilitas yang lebih panjang.

Transaksi emas fisik melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses pada aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.

Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

  • Related Posts

    Minyak Dominan, Emas Menguat Tanpa Euforia, Rupiah Rentan di Tengah Tekanan Global

    Jakarta, MetalNews Digital – Pasar global kembali bergerak dalam pola yang terkendali namun sarat risiko, dengan minyak tetap menjadi variabel makro dominan. Pelaku pasar saat ini tidak sekadar merespons siklus…

    Emas Fisik di Platform JFXGOLD X Terkoreksi Hampir 2%, Harganya Kembali ke Rp. 2,7 juta/gram!

    Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Senin (17/3/2026) setelah sempat memangkas penurunan hampir 1% pada awal sesi. Pelemahan dolar AS membantu menahan tekanan harga logam mulia…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You Missed

    Minyak Dominan, Emas Menguat Tanpa Euforia, Rupiah Rentan di Tengah Tekanan Global

    Minyak Dominan, Emas Menguat Tanpa Euforia, Rupiah Rentan di Tengah Tekanan Global

    Emas Fisik di Platform JFXGOLD X Terkoreksi Hampir 2%, Harganya Kembali ke Rp. 2,7 juta/gram!

    Emas Fisik di Platform JFXGOLD X Terkoreksi Hampir 2%, Harganya Kembali ke Rp. 2,7 juta/gram!

    Emas Menguat Tipis di Tengah Meredanya Kekhawatiran Inflasi, Pasar Pantau Data Ekonomi AS

    Emas Menguat Tipis di Tengah Meredanya Kekhawatiran Inflasi, Pasar Pantau Data Ekonomi AS

    Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz

    Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz

    Harga Emas Melonjak 1,37%, Pasar Global Masuk Mode “Risk-Off” Pasca Serangan AS–Israel ke Iran

    Harga Emas Melonjak 1,37%, Pasar Global Masuk Mode “Risk-Off” Pasca Serangan AS–Israel ke Iran

    Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Tarif AS, JFXGOLD X Melesat Hampir 4% Tembus US$ 5.165 per troy ounce

    Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Tarif AS, JFXGOLD X Melesat Hampir 4% Tembus US$ 5.165 per troy ounce