Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas global kembali melemah pada perdagangan Jumat (22/5/2026), menandai penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak, meningkatnya kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Harga emas spot tercatat turun 0,2% menjadi US$ 4.534,29 per troy ounce pada pukul 00.47 GMT. Secara mingguan, harga emas terkoreksi sekitar 0,1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni turun 0,1% ke level US$ 4.535,60 per troy ounce.
Kenaikan harga minyak mentah turut membebani pergerakan emas. Harga minyak Amerika Serikat naik lebih dari 1 dolar AS pada awal perdagangan, seiring meningkatnya keraguan investor terhadap prospek tercapainya kesepakatan damai dalam konflik geopolitik yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, melansir dari Reuters.com dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor penekan tambahan. Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin, menyatakan bahwa respons pelaku usaha dan konsumen terhadap guncangan ekonomi akan menentukan apakah bank sentral perlu kembali menaikkan suku bunga atau dapat mengabaikan tekanan inflasi saat ini.
Data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat menurun pada pekan lalu, mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja. Kondisi ini memberi ruang bagi bank sentral untuk tetap fokus pada pengendalian inflasi.
Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 60% bagi bank sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, berdasarkan indikator CME Group FedWatch.
Di tengah tekanan terhadap emas, perkembangan geopolitik justru memberikan sinyal berbeda pada pasar energi.
Melansir Bloomberg Technoz, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negaranya telah memasuki fase akhir dalam perundingan dengan Iran.
“Kita lihat saja apa yang terjadi. Kesepakatan akan terjadi atau kami akan melakukan sesuatu yang sedikit kejam, tetapi kami harap itu tidak terjadi,” ujar Trump, sebagaimana dikutip Bloomberg News.
Potensi berakhirnya konflik dinilai dapat membuka kembali akses di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi energi global. Selat tersebut merupakan rute vital bagi pengiriman minyak dan komoditas utama dunia.
Berbeda dengan tren global, harga emas fisik di pasar domestik justru mengalami penguatan. Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), harga emas fisik di platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X naik 1,17% per troy ounce. Kenaikannya membuat harga tercatat berada di level US$ 4.539,04 per troy ounce atau setara dengan Rp2.617.892 per gram.
Penguatan di pasar domestik ini mencerminkan adanya faktor permintaan lokal serta dinamika nilai tukar rupiah yang turut mempengaruhi harga emas fisik di dalam negeri.
Dalam konteks ini, emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi. Sebaliknya, emas cenderung diminati ketika suku bunga berada dalam tren penurunan.
Sebelumnya, harga emas sempat menguat tipis pada awal pekan akibat pelemahan dolar Amerika Serikat. Namun, kenaikan tersebut tertahan oleh meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun tercatat mencapai level tertinggi sejak Februari 2025. Kondisi ini mendorong investor untuk beralih ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas.
Selain itu, lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik sebelumnya turut meningkatkan tekanan inflasi. Tercatat, harga minyak Brent telah naik sekitar 55% sejak akhir Februari, sementara harga emas justru turun sekitar 13,8% dalam periode yang sama.
Sejumlah lembaga keuangan juga mulai merevisi proyeksi harga emas. J.P. Morgan menurunkan estimasi rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi 5.243 dolar AS per troy ounce dari sebelumnya 5.708 dolar AS, seiring melemahnya permintaan investor dalam jangka pendek.
Transaksi emas fisik melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses pada aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.
Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





