Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (23/7) waktu Amerika Serikat atau Jumat (24/7) WIB. Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada sesi sebelumnya, logam mulia tersebut terkoreksi lebih dari 2 persen seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Melansir Reuters, tekanan terhadap harga emas dipicu meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong inflasi. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi peluang The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Harga emas spot turun sekitar 2 persen ke kisaran US$4.043 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS ditutup melemah sekitar 2,5 persen di level US$4.050 per troy ounce. Penurunan tersebut sekaligus menghapus sebagian besar penguatan yang tercatat pada sesi perdagangan sebelumnya.
Perubahan sentimen investor menjadi faktor utama yang membebani harga emas. Jika sebelumnya pasar lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan aset safe haven akibat konflik geopolitik, kini perhatian pelaku pasar bergeser pada dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi global.
Harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$100 per barel. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan bertahan lebih lama sehingga memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, indeks dolar AS menguat, diikuti kenaikan imbal hasil US Treasury. Kombinasi kedua faktor tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang untuk memiliki emas ikut naik sehingga minat investor terhadap logam mulia cenderung menurun.
Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih solid turut memperkuat ekspektasi tersebut. Mengutip FXStreet, data Initial Jobless Claims terbaru menunjukkan jumlah klaim pengangguran mingguan berada di bawah ekspektasi pasar. Data tersebut mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat sehingga ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat masih terbuka.
Sentimen Inflasi Kalahkan Status Safe Haven
Secara historis, meningkatnya ketegangan geopolitik biasanya menjadi katalis positif bagi harga emas. Namun, kondisi saat ini menunjukkan dinamika yang berbeda.
Konflik di Timur Tengah memang meningkatkan permintaan terhadap aset aman. Namun, di sisi lain, konflik tersebut juga mendorong lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi memicu inflasi. Akibatnya, pasar justru semakin meyakini bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Sentimen tersebut kini lebih dominan dibandingkan fungsi emas sebagai aset lindung nilai.
Dengan demikian, fokus investor saat ini lebih tertuju pada prospek kebijakan moneter The Fed dibandingkan risiko geopolitik.
Analisis Pasar
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih berpotensi berlanjut selama tiga indikator utama belum menunjukkan perubahan arah, yakni penguatan indeks dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level yang tinggi.
Investor juga mulai mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan. Data tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Sementara itu, mengutip analisis teknikal Reuters, reli harga emas yang sempat terjadi pada awal pekan mulai kehilangan momentum. Harga emas kini berada di dekat area support penting sehingga arah pergerakan selanjutnya diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, imbal hasil US Treasury, serta perkembangan inflasi global.
Selama ketiga faktor tersebut masih bertahan pada level tinggi, ruang pemulihan harga emas diperkirakan masih terbatas. Kendati demikian, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi mengingat investor juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta sinyal kebijakan
dari para pejabat The Fed menjelang keputusan suku bunga pada akhir Juli.
Harga Emas di Indonesia
Tekanan di pasar global turut menjadi perhatian pelaku pasar domestik. Meski demikian, pergerakan harga emas di Indonesia tidak selalu sejalan dengan harga emas dunia. Selain dipengaruhi harga emas internasional, harga emas domestik juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta kebijakan penetapan harga masing-masing produsen.
Pada perdagangan Jumat (24/7/2026), berdasarkan data Pegadaian, harga emas Antam dibanderol sebesar Rp2.746.000 per gram, Galeri24 sebesar Rp2.608.000 per gram, dan UBS sebesar Rp2.620.000 per gram. Sementara itu melansir data JFXGOLD X, harga emas fisik di platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X berada di level Rp2.378.449 per gram.
Ke-depan, pelaku pasar domestik diperkirakan masih akan mencermati perkembangan kebijakan moneter The Fed, pergerakan indeks dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan tetap menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas, baik di pasar internasional maupun domestik, dalam jangka pendek.
Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.




