Harga Emas Global Menguat Saat Minyak Tembus US$100, Ini Pemicunya

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas global menguat dan bertahan di sekitar level US$4.400 per troy ounce di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus US$100 per barel. Pergerakan kedua komoditas tersebut menjadi perhatian pasar seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel pada Rabu (9/9/2026), untuk pertama kalinya dalam sekitar enam pekan. Kenaikan tersebut terjadi setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Reuters melaporkan, kenaikan harga minyak juga dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz. Serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.

Kenaikan harga energi kemudian menimbulkan kekhawatiran baru di pasar, bukan hanya mengenai pasokan minyak, tetapi juga mengenai inflasi.

Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Meningkat

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi. Jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama, kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa.

Risiko tersebut menjadi perhatian pasar karena harga minyak yang lebih tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi dan berpotensi membuat suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama.

Reuters melaporkan, kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya energi bagi konsumen dan dunia usaha. Kondisi tersebut juga berpotensi memperpanjang tekanan inflasi.

Perkembangan harga minyak menjadi semakin penting karena investor tengah menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat untuk memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

Data Producer Price Index (PPI) dijadwalkan menjadi perhatian pasar pada Kamis (10/9), sebelum data Consumer Price Index (CPI) dirilis pada Jumat (11/9). Kedua indikator tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan pasar dalam memperkirakan arah suku bunga The Fed.

Mengapa Emas Ikut Menguat?

Di tengah kenaikan harga minyak, harga emas justru mampu bertahan di sekitar level US$4.400 per troy ounce.

Harga emas spot naik sekitar 1,4% menjadi US$4.414,30 per troy ounce pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Penguatan tersebut terjadi ketika dolar AS melemah dan pasar menunggu data inflasi Amerika Serikat.

Pada perdagangan hari ini Kamis (10/9/2026) harga emas fisik di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X lanjutkan penguatannya. Penguatan ini membawa harganya menduduki angka US$4.420.53 per troy ounce atau sekitar Rp. 2.538.271 per gram.

Kenaikan harga minyak dan emas tidak memiliki hubungan langsung. Namun, keduanya dapat bergerak bersamaan ketika pasar menghadapi peningkatan risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.

Setidaknya terdapat dua faktor yang menjadi perhatian.

Pertama, risiko inflasi.
Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, emas dapat kembali diminati sebagai aset lindung nilai.

Kedua, risiko geopolitik.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mendorong permintaan terhadap aset yang dipandang sebagai tempat berlindung ketika risiko pasar meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap harga emas.

Namun, kenaikan harga minyak tidak secara otomatis membuat harga emas naik. Pergerakan emas tetap dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, termasuk dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga, dan permintaan global.

The Fed Jadi Faktor Penentu Berikutnya

Kenaikan harga minyak juga dapat menjadi pedang bermata dua bagi pasar emas.

Di satu sisi, meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran inflasi dapat meningkatkan permintaan terhadap emas.

Di sisi lain, kenaikan harga energi yang mendorong inflasi dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama.

Suku bunga yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dapat meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Reuters mencatat, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat naik ke level tertinggi sejak November 2023 sebelum kembali turun. Pergerakan imbal hasil tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar emas.

Dengan demikian, pasar saat ini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan.

Risiko geopolitik meningkat → berpotensi mendukung emas.
Inflasi dan ekspektasi suku bunga meningkat → berpotensi menekan emas.

Karena itu, data inflasi Amerika Serikat menjadi penting untuk menentukan arah pergerakan emas dalam jangka pendek.

Pasar Menanti Data Inflasi AS

Perhatian investor kini beralih ke data PPI dan CPI Amerika Serikat. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai perkembangan tekanan harga dan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar dalam memperkirakan kebijakan The Fed.

Jika inflasi menunjukkan tekanan yang lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap emas.

Sebaliknya, jika data inflasi lebih rendah dari ekspektasi, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi harga emas untuk melanjutkan penguatan.

Namun, ekspektasi terhadap kebijakan The Fed saat ini masih berubah-ubah. Dalam laporan terpisah, Reuters menyebut mayoritas ekonom yang disurvei masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Meski demikian, semakin banyak ekonom yang memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 karena meningkatnya risiko inflasi.

Dengan harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel dan emas bertahan di sekitar US$4.400 per troy ounce, pasar kini menghadapi kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter.

Pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menerjemahkan perkembangan harga minyak dan data ekonomi Amerika Serikat ke dalam ekspektasi kebijakan The Fed.

Bagi pasar emas, pertanyaan utamanya bukan hanya apakah harga minyak akan terus naik, tetapi apakah kenaikan tersebut akan mendorong inflasi dan mengubah arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Transaksi emas fisik melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses pada aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.

Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

  • Related Posts

    Emas Tertekan di US$4.400, Pasar Kembali Soroti Suku Bunga The Fed

    Jakarta, MetalNews Digital — Harga emas global kembali tertekan pada perdagangan Senin (7/9/2026), setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan mendorong pasar meningkatkan ekspektasi terhadap potensi…

    Emas Kembali Menguat di Atas US$4.400, Pasar Menanti Data NFP AS

    Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas global kembali menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026) dan bergerak di atas level US$4.400 per troy ounce. Penguatan terjadi setelah dolar AS dan imbal hasil…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You Missed

    Harga Emas Global Menguat Saat Minyak Tembus US$100, Ini Pemicunya

    Harga Emas Global Menguat Saat Minyak Tembus US$100, Ini Pemicunya

    Emas Tertekan di US$4.400, Pasar Kembali Soroti Suku Bunga The Fed

    Emas Tertekan di US$4.400, Pasar Kembali Soroti Suku Bunga The Fed

    Emas Kembali Menguat di Atas US$4.400, Pasar Menanti Data NFP AS

    Emas Kembali Menguat di Atas US$4.400, Pasar Menanti Data NFP AS

    Menguat 14% JFXGOLD X Tembus Rp2,7 juta/gram, Pasar Bidik US$5.000 per Troy Ounce

    Menguat 14% JFXGOLD X Tembus Rp2,7 juta/gram, Pasar Bidik US$5.000 per Troy Ounce

    Harga Emas Menguat, JFXGOLD X Naik 8,48% Sepanjang Agustus 2026

    Harga Emas Menguat, JFXGOLD X Naik 8,48% Sepanjang Agustus 2026

    Gold Kembali Menguat ke US$4.400, Pasar Mulai Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

    Gold Kembali Menguat ke US$4.400, Pasar Mulai Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed