Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia melonjak menembus US$4.950 per troy ounce, menempatkannya pada jalur pekan terkuat sejak Maret 2020, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta menguatnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) pada akhir 2026.
Kenaikan harga emas tersebut dipicu oleh kombinasi faktor global, mulai dari meningkatnya risiko geopolitik hingga rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menunjukkan tren pelemahan inflasi berkelanjutan. Data ini memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa tekanan harga di AS terus mereda, sehingga membuka ruang bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuannya dalam jangka menengah dan panjang.
Pada perdagangan terbaru, emas spot bergerak mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, sementara dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Kondisi ini semakin menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai di tengah volatilitas pasar keuangan global.
Dampak ke Bursa Emas Fisik
Penguatan harga emas global yang terjadi pada perdagangan hari ini (23/1/2026) turut berdampak langsung pada harga emas dalam bursa komoditi JFX. Di platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X, harga emas tercatat menguat 3,21% hanya dalam waktu satu malam. Penguatan tersebut membawa harga emas di JFXGOLD X ke level US$4.941,21 per troy ounce, atau setara dengan Rp2.725.043 per gram.
Kenaikan tersebut mencerminkan transmisi cepat pergerakan harga emas global ke dalam mekanisme perdagangan emas fisik berbasis bursa, seiring meningkatnya minat investor domestik terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.
Risiko Geopolitik Dorong Permintaan Safe-Haven
Robby leonardo – Head of research analis and market development Metalbank global monetary mengatakan, lonjakan harga emas global terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Berbagai isu politik internasional, termasuk dinamika NATO, isu Greenland, serta wacana kebijakan tarif, telah memicu kehati-hatian pelaku pasar dan menekan aset berisiko.
“Dalam kondisi tersebut, investor kembali mengalihkan dana ke emas sebagai instrumen safe-haven. Pasar kini menilai ketidakpastian geopolitik bukan lagi bersifat sementara, melainkan telah berkembang menjadi risiko ekor (tail risk) yang berpotensi bertahan lebih lama, sehingga menopang permintaan emas secara struktural.” Jelas Robby kepada tim MetalNews Digital.
Penurunan Imbal Hasil Riil dan Ekspektasi Pelonggaran The Fed
Selain faktor geopolitik, penurunan imbal hasil riil AS menjadi pendorong utama reli emas. Tren disinflasi yang tercermin dari data PCE, dikombinasikan dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga, menekan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS.
Penurunan imbal hasil riil tersebut menurunkan biaya peluang memegang emas—yang tidak memberikan imbal hasil—sehingga meningkatkan daya tariknya di mata investor global. Berdasarkan indikator CME FedWatch, pasar semakin memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed hingga akhir 2026.
Dukungan Struktural dari ETF dan Bank Sentral
Dari sisi fundamental, pasar emas juga ditopang oleh permintaan struktural yang kuat. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, aliran dana ke exchange-traded funds (ETF) berbasis emas tercatat meningkat signifikan, mencerminkan minat investor institusi terhadap emas fisik.
Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral global terus berlanjut, terutama dari negara-negara berkembang yang berupaya mendiversifikasi cadangan devisanya. Permintaan dari sektor swasta juga meningkat, seiring penggunaan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan global.
Dampak Lintas Aset Global
Penguatan harga emas berlangsung seiring dengan pergerakan yang relatif stabil di pasar keuangan lainnya. Nilai tukar USD/IDR tercatat bergerak dalam kisaran terbatas, didukung oleh aliran komoditas dan kebijakan manajemen likuiditas Bank Indonesia.
Di pasar saham global, minat investor terhadap saham AS masih terjaga namun cenderung selektif, sementara di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendapatkan dukungan dari aliran dana domestik dan kinerja saham berbasis komoditas.
Sentimen Pasar dan Risiko Koreksi
Dari sisi sentimen, aliran modal bersih ke ETF emas utama tercatat moderat dalam sepekan terakhir. Di pasar derivatif, aktivitas opsi menunjukkan kecenderungan investor meningkatkan perlindungan sisi bawah, meskipun permintaan terhadap instrumen konveksitas tinggi masih bertahan, menandakan ekspektasi volatilitas yang berkelanjutan.
Meski tren jangka menengah emas tetap didukung faktor fundamental, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi koreksi dalam jangka pendek. Data makroekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan—seperti data tenaga kerja, CPI, atau PCE—berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik emas.
Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Emas
Sejalan dengan reli harga emas, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas pada akhir 2026 menjadi US$5.400 per troy ounce, dari sebelumnya US$4.900 per troy ounce. Kenaikan proyeksi ini didorong oleh asumsi berlanjutnya diversifikasi ke emas oleh bank sentral, sektor swasta, serta negara-negara berkembang.
Dalam catatan terbarunya, Goldman mencatat bahwa harga emas spot telah mencapai level tertinggi di US$4.887,82 per troy ounce, dengan kenaikan lebih dari 11% sepanjang 2026, setelah melonjak sekitar 64% pada 2025. Goldman juga memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan mencapai rata-rata 60 ton per tahun pada 2026, sementara kepemilikan ETF emas di negara-negara Barat diproyeksikan meningkat seiring potensi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin.
Meski demikian, Goldman memperingatkan bahwa penurunan signifikan persepsi risiko terhadap kebijakan moneter global jangka panjang dapat menjadi faktor penurunan harga emas, apabila memicu likuidasi lindung nilai makro yang selama ini menopang reli.
Transaksi Emas via Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses melalui aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold di dalam aplikasi Pospay.
Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





