Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dan perak kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Pada perdagangan Rabu (14/1/2026), harga emas dunia menguat 0,72% dan ditutup di level US$4.620,48 per troy ounce. Sepanjang perdagangan intraday, harga emas bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level US$4.642,72 per troy ounce. Penutupan tersebut menandai pertama kalinya harga emas bertahan di atas level psikologis US$4.600 per troy ounce.
Penguatan emas dan perak didorong oleh meningkatnya permintaan investor terhadap aset lindung nilai (safe haven). Ketegangan geopolitik, mulai dari ancaman Iran terhadap kepentingan Amerika Serikat hingga isu Greenland, menjadi faktor utama yang mendorong arus dana masuk ke logam mulia. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Federal Reserve turut memperkuat sentimen positif, menempatkan pasar emas dalam fase bullish struktural.
Di tengah reli yang mencetak rekor baru tersebut, harga emas dunia di Bursa Emas Fisik JFXGOLD X justru mengalami koreksi pada perdagangan hari ini. Pada Kamis (15/1/2026), harga emas tercatat melemah 0,34% ke posisi US$4.607,15 per troy ounce atau setara Rp2.537.005 per gram.
Dari sisi data ekonomi, Amerika Serikat mencatat penjualan ritel November tumbuh 0,6%, melampaui ekspektasi pasar. Data ini menunjukkan perekonomian AS masih berada dalam kondisi solid. Namun demikian, pertumbuhan konsumsi tersebut tidak merata. Rumah tangga berpenghasilan tinggi menjadi motor utama belanja, sementara kelompok berpenghasilan rendah semakin tertekan oleh kenaikan biaya hidup dan harga pangan. Kondisi ini mempertegas fenomena ketimpangan konsumsi atau K-shaped economy.
Ketidakpastian pasar juga meningkat seiring arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Sejumlah rencana untuk menekan biaya hidup, serta sikap agresif terhadap The Federal Reserve, memunculkan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS. Meski demikian, para gubernur bank sentral dunia menyatakan dukungan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang sedikit meredakan kekhawatiran pelaku pasar.
Ke depan, pelaku pasar diminta mencermati faktor makro utama, terutama probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed serta rilis data ekonomi AS, seperti data tenaga kerja dan inflasi (CPI). Arah kebijakan moneter tersebut akan sangat menentukan pergerakan imbal hasil riil AS, nilai tukar dolar, serta pasar keuangan global secara keseluruhan.
Dalam kondisi tersebut, emas dipandang sebagai instrumen “asuransi taktis”. Strategi yang banyak diadopsi pelaku pasar adalah akumulasi terbatas saat terjadi koreksi, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko. Penurunan imbal hasil riil AS dan ekspektasi pelonggaran moneter masih menjadi penopang utama pergerakan harga emas.
Di pasar valuta asing, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas. Pergerakan USD/IDR sangat sensitif terhadap arus modal asing serta komunikasi kebijakan Bank Indonesia. Bagi pelaku usaha, strategi lindung nilai secara bertahap dinilai tetap relevan di tengah volatilitas global.
Sementara itu, di pasar saham AS, investor mulai disarankan untuk mengurangi konsentrasi pada saham teknologi berkapitalisasi besar dan lebih selektif dalam menambah eksposur pada saham siklikal, terutama ketika koreksi pasar didukung oleh perbaikan lebar pasar (market breadth).
Untuk pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat melalui akumulasi saham eksportir komoditas yang likuid saat terjadi koreksi. Namun, keberlanjutan tren penguatan masih sangat bergantung pada kembalinya aliran dana investor asing.
Robby Leonardo, Head of Research Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary, mengatakan bahwa pada komoditas energi, pelaku pasar cenderung menghindari transaksi spekulatif berbasis sentimen berita jangka pendek. Strategi yang lebih disukai adalah memanfaatkan peluang teknikal, seperti pembelian saat koreksi serta pengelolaan posisi melalui strategi spread kalender.
“Secara keseluruhan, pelemahan imbal hasil riil AS dan meningkatnya peluang pemangkasan suku bunga The Fed masih mendukung harga emas dan aset berisiko. Namun, karena kepemimpinan pasar masih terbatas pada saham berkapitalisasi besar, reli pasar tetap rentan terhadap koreksi,” ujarnya kepada MetalNews.
Saat ini, sentimen investor cenderung berhati-hati atau risk-off, tercermin dari meningkatnya permintaan terhadap instrumen lindung nilai, baik dari investor institusional maupun ritel.
Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses melalui aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold di dalam aplikasi Pospay.
Disclaimer:
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





