Harga emas dunia menguat sekitar 1 persen dan kembali mendekati level psikologis US$5.000 per troy ounce, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif baru Amerika Serikat serta pelemahan dolar AS.
Kenaikan ini dipicu oleh peralihan investor ke aset safe haven di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan global. Pelemahan dolar AS turut menopang harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendorong permintaan internasional.
Emas global saat ini bergerak di kisaran US$5.000–US$5.200 per troy ounce. Dalam jangka pendek, harga diperkirakan tetap bertahan di level tinggi selama ketidakpastian terkait tarif masih berlangsung. Namun, potensi koreksi tetap terbuka apabila tensi kebijakan mereda atau langkah kebijakan dari bank sentral AS, yakni Federal Reserve, mengubah ekspektasi pasar terhadap suku bunga dan arah dolar.
Secara fundamental, prospek jangka menengah emas masih dinilai positif. Permintaan safe haven yang kuat, pembelian emas oleh bank sentral, serta revisi naik proyeksi harga emas tahun 2026 oleh sejumlah analis global menjadi faktor pendukung utama. Pelaku pasar juga mencermati bahwa setiap penurunan harga cenderung dimanfaatkan oleh dana logam mulia dan manajer kekayaan swasta untuk melakukan akumulasi. Kendati demikian, pergerakan jangka pendek tetap sensitif terhadap perubahan imbal hasil riil obligasi AS dan dinamika dolar AS.
Di dalam negeri, harga emas fisik pada platform bursa emas fisik JFXGOLD X pada Senin, 23 Februari 2026, tercatat berada di level US$5.165,79 per troy ounce atau setara Rp2.851.442 per gram. Harga tersebut mengalami peningkatan sebesar 3,41 persen atau sekitar Rp98.325 per gram dibandingkan perdagangan sebelumnya. Robby Leonardo – Head of Research, Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary mengatakan kenaikan ini mencerminkan penguatan harga yang sejalan dengan tren emas global, sekaligus menunjukkan meningkatnya minat investor domestik terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar. “Kenaikan ini mencerminkan penguatan harga yang sejalan dengan tren emas global, sekaligus menunjukkan meningkatnya minat investor domestik terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar,” ujar Robby kepada tim MetalNews Digital.
Di pasar valuta asing, nilai tukar USD/IDR bergerak di kisaran Rp 16.840–Rp 16.925 per dolar AS. Rupiah berada dalam tekanan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, intervensi Bank Indonesia serta pelemahan dolar global memberikan dukungan. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan kuartal IV yang berbalik menjadi US$2,54 miliar atau sekitar 0,69 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) akibat peningkatan impor menambah tekanan terhadap mata uang domestik. Volatilitas aliran portofolio asing juga turut mempengaruhi pergerakan rupiah.
Sementara itu, harga minyak mentah diperdagangkan dengan volatilitas tinggi mengikuti perkembangan kebijakan global dan risiko geopolitik. Di pasar saham Amerika Serikat, investor mulai melakukan lindung nilai atas eksposur yang terkonsentrasi pada sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), sembari mempertimbangkan rotasi ke sektor siklikal apabila lebar pasar menunjukkan perbaikan.
Secara keseluruhan, pasar global saat ini bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian kebijakan dan geopolitik. Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan tarif AS, arah kebijakan moneter The Fed, serta dinamika arus modal global yang berpotensi mempengaruhi arah emas dan aset berisiko lainnya.
Transaksi emas melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses melalui aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.
Disclaimer:
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





