Jakarta, MetalNews Digital – Pemerintah Amerika Serikat mengalami penutupan sebagian (partial government shutdown) sejak 31 Januari 2026 setelah Kongres gagal mencapai kesepakatan terkait anggaran federal tahun fiskal 2026. Kondisi ini berdampak pada sekitar 45 persen pegawai federal, dengan sekitar 500.000 pegawai tetap bekerja tanpa menerima gaji, sementara sekitar 480.000 pegawai lainnya dirumahkan sementara.
Sejumlah lembaga pemerintah yang terdampak meliputi Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security/DHS), Departemen Pertahanan, Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, serta Departemen Transportasi. Meski demikian, beberapa layanan esensial tetap beroperasi, antara lain pembayaran Jaminan Sosial, Medicare dan Medicaid, Layanan Pos Amerika Serikat, serta operasional Taman Nasional dan Museum Smithsonian.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemungutan suara terkait paket pendanaan pada Senin, yang berpotensi mengakhiri penutupan pemerintah pada Selasa.
Ketidakpastian fiskal di Amerika Serikat tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Harga emas dunia tercatat mengalami koreksi tajam ke kisaran US$4.700–4.800 per troy ounce, mencerminkan penurunan intraday yang cukup dalam dari level tertinggi rekor sebelumnya. Harga emas sempat melemah sekitar 1,5 persen, seiring tekanan yang meluas di berbagai kelas aset dan mendorong harga bergerak di bawah US$4.800 per troy ounce.
Pelemahan harga emas dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, menyusul munculnya sinyal hawkish dari calon pejabat Federal Reserve (The Fed), serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Dari sisi fundamental, mencuatnya nama Kevin Warsh sebagai figur hawkish di jajaran The Fed mendorong kenaikan ekspektasi terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS. Kenaikan imbal hasil tersebut menurunkan daya tarik relatif emas dan memicu aksi ambil untung setelah reli harga yang bersifat parabolik dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, tekanan inflasi yang masih bertahan menjaga peran emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) dalam jangka menengah, terutama apabila imbal hasil riil tetap berada pada level yang terkendali.
Tekanan di pasar global turut tercermin pada harga emas fisik di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X. Setelah sempat menembus level Rp3 juta per gram, harga emas fisik di platform tersebut kembali terkoreksi ke kisaran Rp2,5 juta per gram. Pada perdagangan Senin (2/2/2026), harga emas fisik tercatat turun sekitar 15% atau setara dengan Rp460 ribu per gram. Koreksi tersebut membawa harga emas fisik di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X ke level US$4.685,85 per troy ounce, atau setara dengan Rp2.571.743 per gram, sejalan dengan pelemahan harga emas global dan penguatan dolar AS.
Head of Research, Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary, Robby Leonardo, mengatakan bahwa dari perspektif sentimen, risiko jangka pendek pergerakan emas cenderung meningkat akibat penyesuaian ekspektasi jalur kebijakan The Fed dan realisasi keuntungan oleh investor.
“Namun, dalam jangka menengah, emas masih dipandang sebagai aset lindung nilai inflasi yang strategis, terutama jika tekanan inflasi berlanjut dan potensi pemangkasan suku bunga kembali tertunda. Dalam konteks ini, pergerakan harga diperkirakan bersifat konsolidatif, dengan area pantauan di kisaran US$4.600–4.900 per ons, serta peluang akumulasi bertahap pada pelemahan yang terkontrol,” ujar Robby kepada MetalNews Digital.
Sementara itu, komoditas minyak masih bersifat event-driven, dengan strategi pembelian saat koreksi apabila ketenangan geopolitik berlanjut, namun tetap disertai pengelolaan ukuran posisi yang ketat mengingat ketidakpastian permintaan global. Untuk pasangan USD/IDR, pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan di kisaran 16.700–16.900, dengan penyesuaian strategi lindung nilai apabila data inflasi atau perdagangan domestik memberikan kejutan.
Di pasar saham, investor global disarankan tetap berhati-hati. Pasar saham Amerika Serikat berpotensi menghadapi volatilitas menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat, sehingga fokus pada saham defensif dan berkualitas disertai strategi lindung nilai dinilai lebih prudent, sembari menghindari saham berbeta tinggi. Pasar saham Indonesia juga menuntut pendekatan selektif, dengan menunggu kejelasan arah arus modal asing serta respons pasar terhadap data ekonomi domestik sebelum meningkatkan eksposur risiko.
Transaksi emas fisik melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diakses pada aplikasi METALGO+, NUNOMICS, serta fitur Pospay Gold pada aplikasi Pospay.
Disclaimer:
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.





